300x600
INDOSPORT.COM - Hingga saat ini Indonesia masih menjadi salah satu kiblat bulutangkis dunia. Sejumlah prestasi bergengsi pun telah dicatatakan oleh para pebulutangkis tanah air di kancah internasional dari dahulu hingga kini.
Seolah tak pernah kehabisan talenta, Indonesia selalu dapat menelurkan bakat-bakat hebat di olahraga tepuk bulu angsa ini. Namun dibalik itu semua, untuk menjadi wakil Indonesia di kancah dunia tidaklah mudah, para bakat muda haruslah masuk pelatnas terlebih dahulu guna menyeleksi siapa yang terbaik dari yang terbaik.
Di sinilah ujian dimulai, ketatnya persaingan di pelatnas membuat beberapa pemain harus mengubur mimpinya membela panji merah putih dan rela membela negara lain usai menyandang status kewarganegaraan lain demi karier pribadinya.
Akan tetapi, selain kerasnya persaingan di pelatnas, sejumlah alasan nyatanya menjadi faktor lain para pebulutangkis ini rela menggadaikan status WNI nya.
Berikut INDOSPORT coba merangkum sebanyak 7 pebulutangkis Indonesia yang membela tim bulutangkis negara lain dan tentunya sering dicap mengkhianati bangsa.
1. Mia Audina (Belanda)
Saat dirinya masih aktif menjadi pemain Indonesia, ia sukses meraih sejumlah gelar misalnya saja, menjadi juara Indonesia Open 1998, peraih medali perak Olimpiade Atlanta 1996, penentu juara Piala Uber 1994 dan 1996.
2. Tony Gunawan (Amerika Serikat)
Tony Gunawan yang lahir di Surabaya, 9 April 1975 ini merupakan salah satu ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, bagaimana tidak, bersama Chandra Wijaya, Tony berhasil merebut medali emas Olimpiade 2000, Sydney.
Keputusannya menjadi warga negara Amerika Serikat diketahui karena faktor kesejahteraan.
3. Fung Permadi (Taiwan)
Fung Permadi merupakan pebulutangkis tunggal putra kelahiran Purwokerto, 30 Desember 1967, Indonesia. Fung Permadi diketahui lebih memilih Taiwan sebagai negara yang di belanya dikarenakan sulitnya bersaing dengan pemain Indonesia pada saat itu seperti Ardi Wiranata, Joko Suprianto, serta Hariyanto Arbi.
Terbukti keputusannya hijrah ke Taiwan menghasilkan beberapa gelar prestisius diantaranya juara China Open 1996, Hong Kong Open 1996, Korea Open 1999, runner up Kejuaraan Dunia 1997.
4. Yohan Hadikusomo
Yohan Hadikusomo ialah adik ipar dari Susy Susanti. Pria kelahiran Surabaya 50 tahun silam ini, diketahui sempat masuk ke Pelatnas Cipayung diawal karirnya, namun karena ketatnya persaingan antar pemain pelatnas, Ia akhirnya mengundurkan diri dan akhirnya memutuskan untuk berpindah ke Hongkong.
5. Danny Bawa Crisnanta (Singapura)
Sekitar tahun 2013 lalu, Danny Bawa Chrisnanta resmi menjadi warga negara Singapura, prestasi Danny setelah berbendera Singapura cukup membanggakan. Ia bersama pasasngannya Yu Yan Vanessa Neo, menjadi juara di ajang Yonex Dutch Open 2013.
Sebelum memutuskan hijrah, pada 2006, pria kelahiran Salatiga, 30 Desember 1988 ini nyatanya pernah sempat berpasangan dengan Debby Susanto di sektor yang sama yakni ganda campuran.
6. Setyana Mapasa (Australia)
Wanita yang kerap disapa Tyana ini merupakan salah satu skuat junior Indonesia di ajang Kejuaran Dunia Junior 2012 yang kala itu juga di perkuat oleh, Kevin Sanjaya serta Melati Daeva Oktavianti. Di ajang inilah menjadi akhir karirnya membela Merah Putih. Hal itu dikarenakan ia mengalami cedera lutut parah.
Sempat menghilang, pasangan dari pebulutangkis cantik, Gronya Sommerville ini akhirnya memutuskan untuk menjadi warga negara Australia, keputusan tersebut diambil lantaran faktor keluarganya yang benyak berada di Negeri Kangguru itu.
7. Taufik Hidayat Akbar (Italia)
Pemain ganda putra Indonesia ini nyatanya pernah merasakan atmosfer Pelatnas Cipayung selama empat tahun lamanya (2001-2004) namun pada Agustus 2009 ia memutuskan untuk pindah ke Italia demi mengembangkan kariernya.
